Kisah Kasih Bunda Teresa

KASIH

Seberapa sering kita menyebutkan kata tersebut dalam hidup tiap hari? Mungkin sudah tidak terhitung lagi. Tetapi jika ditanya, sudah seberapa sering kita mengaplikasikannya? Hanya diri kita masing-masing yang mampu menjawabnya.

Seorang wanita bernama Bunda Teresa tidak hanya sering menggaungkan “Kasih” lewat mulutnya. Dari kehidupannya sehari-hari pun gema “Kasih” nya tetap dapat terdengar.

Ini adalah sebuah Kisah tentang Kasih oleh Bunda Teresa. Kiranya kita yang telah membaca kisahnya, terinspirasi dan kemudian melanjutkan tongkat estafet untuk terus membawa kasih untuk orang-orang di sekitar kita. Selamat menikmati kisah kasih Bunda Teresa dan selamat menjadi perpanjangan sebuah Kasih.

[Ditulis ulang, cuplikan dari “No Greater Love” oleh Bunda Teresa]

Suatu malam, seorang laki-laki datang ke rumah kami dan berkata, “Ada sebuah keluarga dengan delapan anak yang sudah berhari-hari tidak makan.” Maka aku pergi membawakan makanan untuk mereka.

Ketika aku tiba disana, kulihat wajah anak-anak itu begitu menderita karena kelaparan. Tidak ada kesedihan atau pun kepedihan di wajah mereka, hanya derita yang dalam karena menahan lapar.

Kuberikan nasi yang kubawa pada sang ibu. Ia membagi nasi itu menjadi dua bagian, lalu keluar membawa setengahnya. Ketika ia kembali, kutanyakan padanya, “Kau pergi kemana?” Ia memberiku jawaban sederhana ini, “Ke tetangga-tetanggaku. Mereka juga lapar.”

Aku tidak heran kalau ia membagi nasi itu dengan tetangga-tetangganya, sebab orang miskin bisanya justru sangat pemurah. Tapi aku heran bahwa ia tahu mereka lapar. Biasanya, kalau kita sedang menderita, kita begitu terfokus pada diri sendiri, sehingga tidak punya waktu untuk memikirkan orang lain.

Dari kisah kasih Bunda Teresa,

kiranya kita semakin disadarkan untuk tidak terus berlomba-lomba memperkaya diri. Semakin dibukakan bahwa disekitar kita pun masih ada orang-orang yang butuh dikasihi. Semakin disemangati untuk mau berbagi.

Selamat menjadi orang yang tidak hanya perduli pada diri sendiri tetapi segera angkat kaki untuk ber-aksi. Jangan hanya banyak bicara disana sini tentang kasih mengasihi yang diteriakkan setiap hari. Dunia butuh bukti, bukan sekedar basa-basi.

 

Reply